Rakyat Parepare Cerdas Pilih Pemimpin

 

Oleh: Muharram Muchtar
Direktur SUN Institute

Apapun hasil Pilkada Kota Parepare nanti tentu itu kehendak rakyat. Dan jika proses tetap 1 Vs 2 maka yang menang adalah pemimpin kita.

Jika proses kolom kosong Vs paslon 2 maka berpeluang besar kolom kosong menang dan tentu itu karena rakyat menghendaki proses rekrutmen calon pemimpin diulang atau mereka menghendaki tersedia pilihan paslon lain dan tentu hal itu didasari karena mereka tidak percaya dgn satu pilihan Paslon yg ada atau tidak ingin memilih tanpa pilihan paslon lain. Jadi memang sangatlah besar kemungkinan kolom kosong mendapat pilihan terbanyak.

Bukanlah sesuatu yg hanya merupakan teori kemungkinan hal tersebut akan terjadi Karena juga sebahagian besar Rakyat Parepare cerdas dan memahami bahwa memenangkan kolom kosong akan terjadi proses ulang rekrutmen calon pemimpin daerah oleh partai atau jalur independen maka tentu rakyat senang karena berpesta 2 kali lebih baik untuk rakyat.(Jangan panik dengan apa yang kami sampaikan ini)

Dan berdasarkan pada hasil riset beberapa lembaga mengenai persentase keterpilihan paslon 1 dan 2 yang dirilis pada awal Mei yang mana hampir semua lembaga survei merilis keterpilihan paslon 1 sudah di atas 60 %.

Maka sebaiknya pihak paslon 2 Jangan Prihatin. Pihak paslon 2 Berdoa saja agar paslon 1 kembali menjadi kompetitor biar peluang menang untuk paslon 2 sedikit ada.

Karena kalau kompetitornya adalah kolom kosong justru peluang menang bagi paslon 2 lebih sulit lagi karena rakyat yang akan mengkampanyekan langsung bahwa memenangkan kolom kosong adalah kesempatan besar untuk rakyat merasakan pesta demokrasi lebih panjang.

Dan hal yang terpenting bagi penyelenggara jika nantinya kolom kosong Vs paslon 2 maka KPU Kota Parepare berkewajiban secara massif mensosialisasikan bahwa jika masyarakat tidak percaya kepada paslon yang ada maka kolom kosong merupakan pilihannya.

Tentu hal ini merupakan edukasi yang sangat penting demi mewujudkan partisipasi masyarakat dalam Pilkada lebih besar dan mencegah persentase golput yang tinggi, dan KPU harus memberi ruang bagi kelompok masyarakat yang ingin menjadi relawan kolom kosong serta sebagai saksi kolom kosong di TPS nantinya.

Hal ini merupakan hasil analisa dan riset kami, yang tentu jika ada lembaga atau komponen lain yang berbeda pendapat dan ingin hal ini dibawa dalam forum terbuka maka sungguh kami sangat bersedia dan bahkan menjadi harapan besar kami bahkan sekaligus menghadirkan KPU sebagai penyelenggara khususnya dalam membedah tuntas “Kolom Kosong” adalah pilihan. Dan, karena pilihan maka bisa dikampanyekan dan difasilitasi oleh KPU sebagaimana layaknya KPU menfasilitasi PASLON. (*)


Editor: Rusli