Hikmah di Balik Peristiwa

 

Penulis: Hj Erna Rasyid Taufan, SE, MPd

 

Mengawali tulisan ketiga saya, saya ingin berbagi pengalaman dengan pembaca mulia sekalian. Melalui pengalaman ini, saya ingin mengulas hikmah di balik peristiwa atau pengalaman hidup yang saya alami baru-baru ini dengan keluarga.

Tahun ini saya sangat ingin beramadhan di tanah suci saja. Suami dan anak-anak saya juga begitu. Nah, dalam proses menuju tanah suci ketika semua sudah kelar, ada beberapa hal yang membuat kami batal berangkat di bulan ramadhan karena suami saya ingin konsen bersama masyarakat di bulan berkah ini.

Dalam hati saya tidak rela karena keinginan saya begitu kuat ingin beberapa hari di sana menjalani bulan suci ramadhan. Lalu saya mencoba menenangkan diri, saya bujuk hati saya tuk menerima tidak berpuasa di sana. Tiga hari menjelang keberangkatan telah sampai, sebuah surat resmi dari Panwaslu bahwa suami saya sebagai paslon Wali Kota dituding dengan dugaan “money politic” dan akan bersidang Minggu depan di Makassar.

Padahal pada waktu itu, tiket sudah diinput, konsekuensi jika kami batal berangkat, maka akan hangus. Tak perlu saya sebut nilai kerugian materi jika  saya, suami, tiga orang, adik, dan supir kami batal berangkat. Setelah tarik ulur apakah ada yang berangkat atau tidak, pada akhirnya akhirnya suami saya, Bapak Taufan Pawe memutuskan agar kami bertujuh batal atau menunda keberangkatan demi menghargai proses hukum.

Kami pun konsen untuk mengikuti sidang yang saya nilai sangat dramatis. Lawan tidak mampu membuktikan laporannya. Walhasil, laporan lawan tidak terbukti sama sekali. Alhamdulillah kami bisa bernafas lega. Namun iyu hanya berselang enam jam.

Keesokan harinya, pagi-pagi buta, kami kembali mendapat kabar miring bahwa Panwaslu Parepare merekomdasikan ke KPU untuk melakukan diskualifikasi atas dua perkara, yaitu tuduhan melanggar karena mutas. Namun lagi-lagi tuduhan itu salah alamat, dan kasus kedua tentang rastra yang akhirnya mendiskualifikasi suami saya sebagai paslon. Hingga akhirnya Bapak menggugat untuk mencari keadilan di Mahkamah Agung.

Hingga ketika, jadwal umroh kami undurkan dan harinya pun kembali sudah ditetapkan, namun ternyata ini menjadi sangat dilematis bagi kami. Soalnya, Bapak harus fokus menyelesaikan berkas pendaftaran gugatan di MA.

Saya merenung, rencana umrah sempat dua kali tertunda. Keinginan saya puasa di tanah suci karena saya ingin beribadah sesungguhnya, beribadah nyaman. Jauh dari hiruk pikuk duniawi.

Hingga pada akhirnya, Bapak menelpon dan membatalkan keberangkatannya. Ia membagi tugas, saya ditemani dua orang anak, adik dan supir saya untuk tetap berangkat umrah. Sementara Bapak dan anak pertama saya, Eta Lestari Taufan akan menemani Bapaknya berjuang di Jakarta.

Batalnya keberangkatan Bapak umrah untuk kedua kalinya, seperti membuat anak-anak tak nyaman. Diam-diam, saya mengambilkan koper Bapak dan anak saya Eta. Saya berharap, setiba di Jakarta nanti, Bapak bisa berubah pikiran.

Belum ada keputusan pasti dari Bapak, hingga pukul 12.00 siang, Alhamdulillah kami lengkap dan akhirnya menunaikan ibadah umrah bersama setelah semua berkas di MA diterima secara lengkap

Sungguh saya menilai ini mungkin umtah terbaik saya. Ruhnya umrah itu terasa sekali, kami betul-betul meniimati ibadah. Meminta pertolongan Allah dan kami menyerahkan sepenuhnya kepada-Nya.

Kekayaan, keberuntungan, dan kesuksesan sungguh bukanlah nyata jika prosesnya tidak kita rasakan. Sungguh Allah bisa menguji kita dengan berbagai cara. Rencana yang buruk belum tentu buruk bagi kita, mungkin saja baik. Sebagaimana firman Allah, “Wa’asaa antuhibbuu syaian wahuwa syarrallakum wallahu ya’lamu wantum lata’lamun”. Artinya, boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).

Dari pengalaman atas ujian yang datangnya bertubi-tubi ini, saya menarik banyak sekali hikmah kehidupan. Salah satunya, hubungan, ikatan batin antara kami sekeluarga semakin kuat. Kami saling tolong menolong, saling bahu membahu, dan saling merasakan penderitaan satu sama lain.

Sungguh, jika kita paham agama, kita punya ilmu, maka kita akan tahu bahwa setiap pengalaman, setiap ujian, dan setiap peristiwa, ada hikmah besar yang akan Allah berikan untuk kita.

Dalam ujian, hendak pula kita berhati-hati dalam menyikapi. Banyak orang diuji dengan kehilangan harta, lalu mereka hilang akal dan hilang pula pahalanya. Padahal ujian jika kita sikapi dengan sabar, maka Allah akan memberi yang terbaik buat kita.

Tapi tahukah kita, sabar yang mana yang dimaksud. Sabar hakikinya sabar, adalah ketika kita berada pada “pukulan pertama”.

Apa itu “pukulan pertama”?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kuburan. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bertakwalah pada Allah dan bersabarlah.” Kemudian wanita itu berkata, menjauhlah dariku. Sesungguhnya engkau belum pernah merasakan musibahku dan belum mengetahuinya.” Kemudian ada yang mengatakan pada wanita itu bahwa orang yang berkata tadi adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian wanita tersebut mendatangi pintu (rumah) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian dia tidak mendapati seorang yang menghalangi dia masuk pada rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian wanita ini berkata,”Aku belum mengenalmu.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya namanya sabar adalah ketika di awal musibah.” (HR. Bukhari, no. 1283)

Semoga Allah memberikan kita taufik dan hidayah untuk selalu ridho dengan takdir Allah yang kita rasa itu pahit. Semoga Allah juga selalu memberikan kita kemudahan untuk bersabar di awal-awal musibah, walaupun itu mungkin terasa berat. Jika seseorang memiliki keyakinan yang mantap pada Allah dan meyakini ada hikmah yang besar di balik setiap musibah, tentu dia akan memilih untuk bersabar.

Dan Allah pun berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ٢:١٥٥
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ٢:١٥٦
أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ ٢:١٥٧

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,” Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. [al Baqarah/2:155-157].

Dari perkara-perkara itu, kami pun menarik hikmah yang luar biasa. Kami mendapatkan dorongan kuat dari kerabat, bahkan masyarakat. Simpati masyarakat kepada Bapak, bahkan kepada saya sebagai istrinya meningkat. Setiap saya turun ke tengah-tengah masyarakat, banyak warga yang datang langsung memeluk saya dan menguatkan. Bahkan banyak di antara mereka yang ingin menjadi terdepan sebagai Laskar Kolom Kosong waktu itu. Adapula yang berharap Bapak menjadi Wali Kota Parepare selamanya. Saya yakin, hasil survei Bapak meningkat, dan Alhamdulillah rilis CRC survei tingkat keterpilihan Bapak benar-benar meningkat, dari 63.8 menjadi 68.3 persen. Allahu Akbar!!

Sungguh pengalaman hidup membuat kita semakin kuat. Jika pun harus menangis karena cobaan yang begitu berat, maka menangislah untuk mengurangi kesedihan yang engkau alami. Namun menangis yang terbaik adalah saat kita bersujud dan curhat berdoa pada Allah SWT.

Demikian tulisan saya, kita akan “bersua” kembali dengan judul “Orang Pintar”. Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. (*)