Saya Punya Piala Dunia Sendiri

 

Oleh: Muharram Muchtar

 

Dalam dua pekan ini euforia Piala Dunia semakin memanas, ditambah lagi negara-negara unggulan seperti Jerman, Argentina, Brazil, Portugal, Uruguay dan Mexico sudah dipaksa mudik duluan oleh lawan-lawan mereka. Maaf, bagi saya Piala Dunia hanya perhelatan turnament 4 tahunan, tak ada kedekatan hubungan emosional. Tak ada suara jeritan histeris ketika gol tercipta atau duka saat kekalahan melanda terhadap negara-negara unggulan tersebut.

Tentu berbeda dengan klub idola saya sejak dari kecil yakni Persipare, saya selalu setia hadir dilapangan Andi Makassau, bersuara lantang saat kemelut tercipta, sehingga suara lebih keraaaas lagi saat gol lahir dari sentuhan kaki atau sundulan kepala dari para jagoan sepakbola masa itu. Persipare klub hebat diera keemasaannya atau bahasa kerennya Golden Age.

Seberapa hebat sih Persipare ditahun 1989-1995, untuk generasi 90-an mereka pasti melihat era kejayaan tersebut, tapi baiklah untuk generasi X dan Y, saya coba tuturkan masa-masa hebatnya Persipare. Skuad Persipare pada era 90-an diantaranya Munir, Agussalim, Jalil Koro, Sahabuddin, Burhanuddin, Yan Ambasalu, Harvei, Rusli Abu, Sarifuddin dan Kadir serta diarsiteki oleh Herman Sumbu.

Persipare menjelma menjadi klub daerah sulit ditaklukkan oleh klub-klub divisi II di Sulawesi Selatan. Persipare pun naik level masuk jajaran klub divisi I PSSI, selevel dengan klub-klub unggulan daerah di Zona Sulawesi dan Indonesia Timur dijajaran PSSI era tersebut.

Saat perebutan juara Zona Divisi I Indonesia Timur, Persipare harus melewati tantangan dari Persma Manado, Persiter Ternate, Persipal Palu dan PS. Kendari. Walau saya harus pulang dengan berlinang air mata saat Persipare takluk dari Persipal Palu 0-2. Hati saya terluka menerima kekalahan tersebut, sampai tak mau makan, walaupun telah dibujuk oleh Ayah saya. Ini karena begitu cintanya saya kepada Persipare.

Masuk ke pertandingan selanjutnya, Persipare menghadapi Persiter di Stadion Andi Makassau. Bintang-bintang Persipare harus berjibaku menghadapi barisan pertahanan super ketat Persiter, serta bagaimana berbahaya counter attack alias serangan balik Persiter Ternate, Sarifuddin bagaikan burung elang memetik bola diudara, tepuk tangan riuh melihat aksi pria diberi julukan Korea ini oleh para suporter. Ketika wasit meniup pluit panjang kedudukan tetap berimbang 0-0.

Menghadapi Persma Manado, saat performa klub ini lagi bagus-bagusnya. Saya berharap-harap cemas, mungkinkah Persipare menang menghadapi klub asal Sulawesi Utara ini. Pembuka harapan melalui kaki Rusli Abu, sontekannya menggetarkan jala gawang Persma Manado, sorak gemuruh pecah di tribun stadion. Menjelang pluit panjang babak pertama usai, Jalil Koro pemain sayap nan lincah memiliki running speed power hebat ini, melakukan solo run dan memberikan umpan lambung kepada Yan, lewat sundulan dan melayang diudara Yan Ambasalu mengarah kesudut kiri gawang Persma Manado. Goooooolllll……

Walau tak ada gol tercipta dibabak kedua, tapi Persipare unggul 2-0 atas Persma Manado, klub yang bermaterikan pemain bagus, bahkan beberapa diantaranya dikemudian hari masuk dalam klub-klub yang berlaga di Galatama takluk di tangan Persipare. Kini babak menentukan adalah menghadapi PS. Kendari, jangan salah mereka mampu mengalahkan Persipal Palu, tapi takluk sama Persiter Ternate, perburuan juara Zona semakin seru pada masa tersebut. Saya hanya berdoa mudah-mudahan ada keajaiban datang, dimana Persma Manado berhasil menaklukkan Persipal Palu dan Persipare Menang. Hanya jalan ini bisa membawa Persipare Lolos.

Suporter berduyun-duyun ke Stadion A. Makassau, sebagai dukungan dan kecintaan terhadap klub kebanggaan warga Ajatappareng. Babak pertama anak-anak Persipare berjuang habis-habisan, ternyata PS. Kendari lebih tangguh dari yang kami bayangkan, Kadir dan Sahabuddin harus jatuh bangun menghadang para striker PS. Kendari. Tak terhitung sudah aksi-aksi penyelamatan yang dilakukan oleh Syarifuddin mengamankan jala gawangnya. Saya harus menahan nafas melihat aksi Syarifuddin ini, bagaimana ia dengan lugas menipis bola tendangan terukur striker dan playmaker PS. Kendari. Inilah hebatnya skuad Persipare masa tersebut, semua lini adalah bintang bagi kami.

Serangan balik itu datang, Jalil Koro harus dihentikan dengan tackling keras di bibir kotak pinalti oleh pemain bertahan PS. Kendari. Mereka harus memasang pagar betis untuk menghalau sepakan bola Yan Amabaslu. Jika kalian masih ingat tendangan bola mati Juan Quintero saat Kolombia vs Jepang dalam babak pengisihan group Piala Dunia 2018 di Rusia. Begitulah Yan menyelesaikan misinya kali ini. Bola bukannya melambung mengarah ke gawang, tapi menyusuri rumput lapangan A. Makassau, menembus pagar betis lawan karena beberapa diantaranya malah melompat mengira bola akan dilambungkan oleh sepakan Yan. “Gooooollll Yaaaaaaan….,” teriakku. Luapan kegembiraan pecah, suara gemuruh terdengar diradius 500 meter dari stadion. Saya tak percaya bola itu melesat laju merobek gawang PS. Kendari. Saya melompat-lompat histeris, berteriak sekeras-kerasnya, bahkan hingga kini saya tak pernah berteriak sekeras itu lagi.

Walau unggul 1-0, Persipare lolos mewakili Zona Timur Indonesia ke fase selanjutnya dan berlaga ke Pulau Jawa. Pada masa tersebut, inilah Piala Dunia bagi saya, tak seseru dan sekhidmat menyaksikan laga-laga yang lain sekalipun piala dunia digelar berkali-kali setiap 4 tahunnya. Karena saya punya Piala Dunia sendiri, dan Persipare serta Yan Ambasalu telah memenangkan hati saya. Terima kasih om Jalil Koro, Yan Ambasalu, Munir, Sarifuddin dan om-om lainnya yang memperkuat Persipare masa tersebut, kalian adalah legenda hidup dihati saya.

Wassalam,


BN, 07/07/18