Cuaca Buruk Landa Sulsel, Warga Terjebak Macet Parah di Poros Makassar-Pangkep

MAKASSAR, suaraya.news — Cuaca buruk yang melanda Sulsel, beberapa hari ini, ikut mengganggu arus lalu lintas di ruas jalan.

Kemacetan parah di jalur trans Sulsel, Poros Makassar-Pangkep, terlihat dalam dua hari ini.

Warga Parepare yang dalam perjalanan dari Makassar ke Parepare, H Bakhtiar Syarifuddin mengaku, sudah dua hari dia tidak bisa tembus melewati Maros.

“Sudah 20 jam, kami belum bisa tembus Kota Maros. Macet total Poros Makassar-Maros. Tadi malam juga kami batalkan perjalanan, karena tiga jam lebih kami terjebak di depan bandara lama Maros. Mobil tidak bisa bergerak, lumpuh total,” ungkap Bakhtiar, Rabu, 23 Januari 2019.

Bakhtiar yang juga Sekretaris Jenderal Laskar Merah Putih (LMP) Parepare,  mengaku, terjebak di kepungan banjir di Batangase, Maros.

Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sudah mengeluarkan peringatan dini agar waspada dengan kondisi cuaca buruk yang tengah melanda wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel).

Hujan deras disertai angin kencang, serta ketinggian gelombang laut masih akan terjadi tiga hari ke depan atau tepatnya 25 Januari 2019.

Kondisi cuaca buruk melanda sebagian besar wilayah Sulsel dipicu pola tekanan rendah 1006 hPa teridentifikasi di Samudra Hindia barat daya Lampung dan Laut Timor yang membentuk palung tekanan rendah (Low-Pressure trough).

Pola Angin umumnya dari Barat hingga utara dengan kecepatan bervariasi 4 – 25 knot. Kecepatan angin tertinggi terpantau di Laut Cina selatan, Laut Natuna Utara, Laut Jawa, Perairan Enggano – Bengkulu, Perairan barat Lampung, Selat Makassar bagian selatan, Perairan Kep. Selayar – Kep. Salabana.

“Kondisi ini mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang,” kata Prakirawan Badana Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) wilayah IV Makassas, Siswanto.

Wilayah yang terdampak dengan ketinggian gelombang 1,25 sampai 2,5 meter berpeluang terjadi di Teluk Bone bagian Utara. Untuk ketinggian 2,5 sampai 4 meter berpeluang terjadi di Teluk Bone bagian Selatan.

Sementara ketinggian gelombang 4 sampai 6 meter berpotensi terjadi di Selat Makassar bagian Selatan, perairan barat Sulawesi Selatan, perairan Kepulauan Sabalana, perairan Kepulauan Selayar, dan Laut Flores.

Ketinggian gelombang dan kecepatan angin disebut sangar berisiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran. Perahu Nelayan (Kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1.25 m).

Kapal tongkang (Kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1.5 m). Kapal Ferry (Kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2.5 m.

Kapal ukuran Besar seperti kapal Kargo/Kapal Pesiar (Kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4.0 m). (*)