Kawasan Hutan Lindung Disulap Jadi Perumahan Ditangani Pusat dan Provinsi

PAREPARE, suaraya.news — Langkah Direktur Jaringan Pemantauan Ruang Publik Kawasan Timur, H Bakhtiar Syarifuddin yang membawa permasalahan pemanfaatan dan sengketa kawasan hutan produksi terbatas Alitta ke pemerintah pusat, direspons Pemkot Parepare.

Camat Soreang, Kota Parepare, Muhammad Nurjani membenarkan jika permasalahan Hutan Alitta ditangani oleh pemerintah pusat dan provinsi.

Soal pemanfaatan kawasan hutan produksi terbatas ini menjadi kawasan perumahan ditangani oleh Dinas Kehutanan Provinsi Sulsel.

Sementara soal sengketa kawasan yang diklaim oleh Pemkot Parepare dan Pemkab Pinrang ditangani pemerintah pusat.

“Kawasan itu sebenarnya merupakan wilayah Pemerintah Kota Parepare, bukan Kabupaten Pinrang. Itu jika kita melihat secara kasat mata persoalan tapal batas wilayah administrasinya,” ungkap Nurjani, Senin, 8 April 2019.

Menurut Nurjani, kawasan Hutan Alitta yang berdampingan dengan Kantor Lapan Parepare, masuk dalam wilayah Kelurahan Bukit Harapan, Kecamatan Soreang, Kota Parepare.

Namun dia heran, kenapa ada pembangunan perumahan di kawasan yang merupakan hutan produksi terbatas.

Dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 104 Tahun 2015 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan, menegaskan, perubahan Fungsi Kawasan Hutan secara parsial ditetapkan dengan keputusan Menteri, berdasarkan usulan yang diajukan oleh: a. gubernur, untuk kawasan Hutan Lindung dan kawasan Hutan Produksi; atau b. pengelola kawasan Hutan Konservasi.

“Sementara ini ditangani Pemerintah Provinsi Sulsel terkait pemanfaatan hutan produksi terbatasnya, dan terkait tapal batas ditangani pemerintah pusat. Kami menyiapkan data-data yang dibutuhkan,” beber Nurjani.

Sejauh ini, Nurjani mengaku sudah dipanggil oleh Dinas Kehutanan Sulsel untuk dimintai penjelasan terkait pemanfaatan Hutan Alitta, dan oleh pemerintah pusat terkait wilayah batas administrasi. “Kami masih menunggu apa hasilnya setelah saya dipanggil, dan bagaimana tindaklanjutnya,” tandas Nurjani. (*)