Taufan Pawe: Feeling Saya ITH Berbanding Lurus Hadirnya Kereta Api di Sulsel

MAKASSAR, suaraya.news — Wali Kota Parepare, Dr HM Taufan Pawe sudah punya pandangan jauh ke depan terkait pembangunan di Parepare dan Sulsel secara umum.

Bahkan wali kota dua periode ini mengaku punya firasat (feeling) terkait progres pembangunan perguruan tinggi negeri, Institut Teknologi BJ Habibie (ITH) di Parepare akan berbanding lurus dengan hadirnya kereta api yang menjadi megaproyek Sulsel.

Hal ini diungkap Taufan Pawe di hadapan para peserta pelatihan penyusunan dan evaluasi Renja SKPD Pemkot Parepare tahun anggaran 2019 di Hotel Ibis Styles, Makassar, 1 Agustus 2019.

Peserta pelatihan didominasi oleh aparatur perencanaan dari seluruh SKPD lingkup Pemkot Parepare.

“Saya ada feeling ITH itu akan berbandng lurus dengan hadirnya kereta api di Sulawesi Selatan,” ungkap Taufan Pawe.

Feeling Taufan beralasan, karena progres ITH dan kereta api terus berjalan dalam tren yang positif.

Jika itu terjadi, kata Taufan, akan menjadi multiplier effect bagi Pemkot Parepare, daerah sekitar, Pemprov Sulsel, dan Universitas Hasanuddin (Unhas) selaku induk semang ITH.

“Dosen Unhas yang mengajar di ITH bisa sarapan pagi di Makassar lalu naik kereta api ke Parepare, untuk mengajar. Dan setelah mengajar bisa kembali ke Makassar sebelum makan siang, karena adanya kecepatan itu,” papar Taufan mengilustrasikan.

Saat ini, kata Taufan, dalam tahap pembebasan sekitar 34 hektare lebih lahan untuk ITH. Pembebasan lahan ini yang paling sulit untuk pendirian perguruan tinggi negeri.

“ITH ini negeri bukan swasta. Swasta itu bisa jalan dulu sambil mengurus izin operasional. Kalau negeri itu harus ready Prodi dan SDM, serta lahan untuk dihibahkan ke pemerintah pusat baru bisa keluar izin operasional,” terang Taufan.

Hadirnya ITH, Rumah Sakit dr Hasri Ainun Habibie yang berkonsep medical tourism, dan menyusul Museum BJ Habibie satu-satunya di dunia, menurut Taufan, adalah sejalan dengan Teori Telapak Kakinya dan visi misinya mewujudkan Parepare Kota Industri Tanpa Cerobong Asap.

“Saya berkontempelasi di depan Baitullah, melihat banyaknya orang datang. Pikiran saya ingin menjadikan Teori Telapak Kaki di Parepare,” kisah Taufan.

Taufan menekankan, Parepare mengandalkan sektor jasa untuk menyedot banyak orang datang ke kota ini demi mendukung Teori Telapak Kaki itu.

Saat ini saja, mahasiswa yang kuliah di Parepare menembus 20 ribu orang. Jika ITH berdiri dan sudah mapan, ditargetkan dapat menerima sekitar 30 ribu mahasiswa.

“Mungkin saat itu bukan saya lagi wali kota, tapi saya sudah meletakkan fondasi Kota Industri Tanpa Cerobong Asap,” tandas wali kota yang menyelesaikan pendidikan S2 dan S3 ilmu hukum di Unhas ini. (*)