Diselimuti Duka Kepergian Habibie, Apel Pagi MAN 1 Parepare Diwarnai Isak Tangis

PAREPARE, suaraya.news — Wafatnya Bacharuddin Jusuf Habibie menjadi duka mendalam bagi dunia dan Indonesia, khususnya masyarakat Kota Parepare.

Tokoh yang mampu mengharumkan nama daerah dan negerinya, sosok yang namanya begitu digaungkan dengan kehebatan dan kecerdasannya.


Penemuan dan kontribusinya baik di dunia politik, ekonomi, dan kedirgantaraan sudah menjadi pengetahuan umum khususnya masyarakat Indonesia.

Tokoh yang berhasil meraih banyak penghargaan baik di tingkat nasional maupun di tingkat Internasional.

Tokoh yang yang banyak memberikan keteladanan dengan gaya hidup yang pantang menyerah, sederhana, ulet, produktif, inovatif, kreatif dan memiliki rasa kasih sayang yang tinggi terhadap keluarga khususnya istrinya menjadi kenangan yang menggugah rasa kehilangan, bukan saja dirasakan oleh keluarga dekat BJ. Habibie.

Namun juga masyarakat Kota Parepare dan lebih khusus lagi oleh keluarga besar MAN 1 Kota Parepare.

Ucapan belasungkawa rasanya tidak mewakili rasa kehilangan yang dialami oleh keluarga besar MAN 1 Kota Parepare.

Ucapan kenangan dan kesedihan menghiasi perbincangan pagi ini baik di kalangan guru, maupun dari kalangan siswa, Kamis, 12 September 2019.

Pelaksanaan apel pagi di lingkup MAN 1 Kota Parepare tidak secerah awan pagi ini. Wajah kesedihan dan tertunduk lesuh menjadi fenomena yang menarik rasa untuk turut serta merasakan duka tersebut.

Kibaran bendera merah putih setengah tiang di halaman MAN 1 Kota Parepare sebagai simbol duka yang menyelimuti keluarga MAN 1 Kota Parepare atas meninggalnya BJ. Habibie tidak luput dari pandangan mata.

Linangan air mata sebagai ungkapan duka tak terelakkan dari Pembina apel dan guru-guru pagi ini.

Wakil Kepala Bidang Kesiswaan MAN 1 Kota Parepare, Muhammad Tang D, M.Pd mengawali amanatnya dengan ucapan belasungkawa sedalam-dalamnya.

“Keluarga besar MAN 1 Kota Parepare turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya putra terbaik Parepare, putra terbaik bangsa Indonesia, bapak Demokrasi, sosok manusia cerdas berotak Jerman dan berhati Mekah,” ungkapnya yang sempat terhenti karena isak tangis perih atas perginya BJ. Habibie untuk selama-lamanya.

Di dalam amanatnya, dia memaparkan sedikit sejarah perjalanan hidup BJ. Habibie yang patut diteladani oleh generasi saat ini.

“Bapak BJ. Habibie merupakan tokoh yang patut dijadikan teladan. Beliau tidak mudah menyerah, pekerja keras, waktunya hampir habis setiap hari hanya dipergunakan untuk belajar,” ungkap Wakamad Kesiswaan yang sekaligus juga guru senior mata pelajaran sejarah di MAN 1 Kota Parepare.

Ucapan belasungkawa dari Kepala MAN 1 Kota Parepare juga mewarnai beranda media sosianya. Tulisan singkat dari WA yang diperuntukkan baik secara pribadi kepada guru maupun di dalam grup-grup WA juga menjadi penyita perhatian pagi ini.

Telah gugur pahlawanku, tunai sudah janji bhakti gugur 1 tumbuh 1000 tanah air jaya sakti. Mr. Crab Nobel yang kau dapatkan karena mampu mendeteksi kerusakan sayap pesawat dengan teori keretakan “crack” sebelum layak terbang. Aku takut dunia tak mampu memberimu satu pengganti, apalagi 1000. Pemimpin negara yang demokratis tanpa rekayasa, merangkul nasinalis dan religius tanpa kebencian…” salah satu tulisan singkat dari Kepala MAN 1 Kota Parepare sebagai bentuk duka atas wafatnya BJ. Habibie. (*)