Warga Hingga Klub Resah, Nonton Walikota Cup Bayar Parkir Rp5 Ribu

PAREPARE, suaraya.news — Turnamen sepak bola Walikota Cup 2019 sukses menghipnotis warga khususnya pecinta bola untuk datang menyaksikan ajang yang dihelat 25 hari itu.

Sayangnya, meski banyak yang datang, warga cukup diresahkan oleh biaya tarif parkir plus keamanan kendaraan yang dibebankan oleh oknum warga setempat.


Warga yang datang menggunakan kendaraan bermotor dikenakan tarif Rp5.000 per motor, sementara mobil di atas tarif itu.

Tidak hanya bagi warga yang datang menonton, bahkan pemain sepak bola dan ofisial tim yang bermain pun dikenakan tarif serupa.

Beberapa oknum warga setempat memalang akses masuk menuju Stadion Gelora Mandiri (SGM) Parepare, dengan sebuah batang bambu, dan memberlakukan sistem buka tutup.

Yang ingin masuk melewati palang itu, bagi kendaraan motor bayar Rp5.000, dan bagi mobil di atas tarif itu.

Tidak jarang warga batal masuk menonton karena enggan membayar tarif yang diminta. “Batal nonton, masak harus bayar parkir Rp5.000. Kalau Rp2.000, ya mungkin tidak apa-apa,” keluh seorang warga yang terpaksa memutar arah motornya karena enggan membayar tarif Rp5.000 yang diminta.

Ketua Askot PSSI Parepare, M Rahmat Sjamsu Alam menyesalkan tingginya tarif parkir dan keamanan yang dibebankan warga setempat.

“Seharusnya motor hanya Rp2.000, mobil Rp5.000. Ini harus diumumkan di stadion setiap hari, agar menjadi perhatian,” kata Rahmat.

Sementara bagi pemain dan ofisial tim yang akan bertanding, Rahmat meminta untuk menggunakan kostum atribut tim agar mudah dikenali.

“Perlu mungkin bantuan dari polisi atau Brimob untuk pengamanan parkir. Ini masalah tanggung jawab keamanan kendaraan orang di stadion yang harus kita pikirkan bersama,” harap Rahmat.

Ketua Panitia Walikota Cup, HM Iskandar Nusu mengharapkan sinergitas bersama untuk masalah parkir ini.

“Retribusi parkir itu untuk pemberdayaan warga setempat, tidak ada yang masuk ke panitia atau Pemda. Jadi warga sendiri yang kelola dan diberdayakan untuk membantu mengatur parkir dan keamanan kendaraan di stadion selama turnamen berlangsung,” terang Iskandar yang juga Kepala Dinas Kominfo Parepare.

Iskandar, mantan Camat Bacukiki ini, sudah berkomunikasi dengan Dinas Perhubungan dan Satpol PP untuk menangani masalah parkir ini.

Ada juga warga yang menyarankan, sebaiknya pelibatan masyarakat setempat dalam penarikan retribusi parkir perlu pendampingan dari aparat Dishub dan Satpol PP agar potensi-potensi kerawanan penyalahgunaan wewenang terkontrol.

“Masak setiap hari persoalan parkir selalu jadi polemik. Sudah perlu panitia penyelenggara evaluasi mengenai parkir kalau perlu pakai toa. Umumkan setiap saat tentang tarif parkir supaya ada saling mengingatkan antara mengendara dan tukang parkir,” demikian saran dari seorang warga. (*)