Jadi Tempat Pembuangan Sampah, FKH Desak Pemkot Parepare Selamatkan Sungai Karajae

PAREPARE, suaraya.news — Banjir besar yang melanda sebagian besar masyarakat yang berdomisili di wilayah Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare, akibat luapan air yang tak terbendung di bagian hulu Sungai Karajae beberapa hari lalu. Ini membuat masyarakat Bacukiki resah dan pemerhati lingkungan hidup pun ikut gerah.

Salah satu pemerhati lingkungan hidup yang fokus dan konsisten pada program delapan atribut Kota Hijau, adalah Forum Komunitas Hijau (FKH) Kota Parepare yang setiap saat memberikan asistensi pada Pemerintah Kota Parepare atas berbagai upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dalam wilayah Parepare, ikut gerah.

Ketua Forum Komunitas Hijau (FKH) Kota Parepare, H. Bakhtiar Syarifuddin, saat ditemui di sela-sela acara penanaman pohon serentak yang diprakarsai Kodim Mallusetasi, Kamis, 16 Januari 2020, mengungkapkan, bahwa sesuai hasil pencermatan faktual sepanjang Sungai Karajae saat ini, dinilai telah terjadi kecerobohan pemanfaatan sungai secara nyata yang berpotensi merusak ekosistem sungai.

Bakhtiar Syarifuddin (HBS) menekankan, secara ekologi daya dukung dan daya tampung Sungai Karajae, terutama di sepanjang bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) dinilai ada kesalahan perlakuan sebagian masyarakat terhadap fungsi sungai sehingga tak lagi dapat berfungsi maksimal.

Saya sangat prihatin melihat kondisi karakteristik alamiah di sepanjang bantaran alur Sungai Karajae saat ini. Sungai yang seharusnya berfungsi sebagai penampungan dan saluran besar saat air hujan turun, justru dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah. Ini sudah perbuatan yang sangat nyata telah merusak lingkungan,” sesal HBS.

Keberadaan Sungai Karajae, kata dia, bukanlah semata-mata hanya karena kepentingan orang tertentu saja, akan tetapi telah menjadi kepentingan dan kebutuhan setiap orang.

“Bagi kita warga masyarakat Kota Parepare, keberadaan Sungai Karajae merupakan sumber kehidupan yang vital. Karena air Sungai Karajae sebagai salah satu sumber bahan baku air minum,” ungkap HBS.

Karena itu, dia mendesak Pemerintah Kota Parepare untuk segera melakukan langkah konkret penyelamatan Sungai Karajae dari potensi kerusakan.

“Harus ada kekuatan kuat dari pemerintah kota untuk memberhentikan dan merubah perilaku masyarakat dari acuh menjadi peduli. Sebab bila tidak dilakukan upaya nyata penyelamatan hari ini, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama Sungai Karajae dipastikan akan kotor dan kehilangan fungsi dan manfaatnya sebagai sungai yang sesungguhnya. Sehingga tak heran bila nanti bencana banjir pun diyakini akan lebih besar lagi,” ingat HBS.

Di samping itu, kata dia, sungai yang tercemar di atas ambang batas toleransi akan menjadi sumber awal malapetaka bagi kesehatan warga masyarakat. “Sebab sungai yang kotor itu adalah awal terjadinya sarang berbagai penyakit,” tandas HBS. (*)