Musrenbang Anak Disabilitas Parepare Menggugah, Ingin Bertemu Wali Kota Sampai Lantunkan Lagu “Jangan Menyerah”

PAREPARE, suaraya.news — Lantunan lagu “syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini. Jangan menyerah” sayup terdengar lirih namun merdu dari mulut Qurata Ainun, siswi kelas 1 Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 1 Kota Parepare.

Lagu bertitel “Jangan Menyerah” milik band D’Masiv itu membius puluhan orang yang hadir dalam Musrenbang Anak Disabilitas di SLBN 1 Parepare, Kamis, 20 Februari 2020.

Hening dalam ruangan. Semua menikmati kemerduan suara Qurata Ainun, yang biasa disapa Ata. Haru. Suara Ata mengundang tetesan air mata dari mereka yang mendengar dan menyaksikan.

Ata adalah satu dari puluhan siswa SLBN yang beraspirasi dalam Musrenbang Anak Disabilitas.

“Jangan menyerah” ibarat kata hati Ata bersama anak disabilitas lainnya yang ingin mendapat perhatian dan perlakuan sama anak normal. Ata tidak hanya bisa menyanyi, tapi juga bisa menghapal ayat Alquran.

Hapalan ayat Alquran Ata diperdengarkan dalam Musrenbang Anak Disabilitas. Lagi-lagi suara hapalan Alquran Ata mengundang tetesan air mata.

Selain Ata, Muh Fajar, anak disabilitas lainnya punya harapan besar. Yakni ingin bertemu Wali Kota Parepare, Dr HM Taufan Pawe.

Dengan bahasa isyarat, serta sesekali mengeluarkan sepenggal kata, Fajar mengungkapkan bahwa Taufan Pawe adalah sosok idolanya.

Fajar yang merupakan atlet disabilitas berharap Pemkot Parepare memberi perhatian sama terhadap anak disabilitas termasuk atlet disabilitas yang menjadi duta Parepare di Porcada.

Kepala SLBN 1 Parepare, Faisal Syarif mengapresiasi Pemkot Parepare memberi ruang yang sama terhadap anak disabilitas beraspirasi dalam perencanaan pembangunan.

“Ini terobosan luar biasa. Mungkin baru Pemerintah Kota Parepare yang melakukan seperti ini. Pertama kalinya ada pemerintah turun ke SLB memberi ruang aspirasi bagi anak disabilitas dalam perencanaan pembangunan,” puji Faisal Syarif.

Faisal mengemukakan, anak disabilitas di SLB selain diberi pendidikan umum, juga dibekali keterampilan. Dia berharap, bekal keterampilan dari sekolah itu, ada penunjang dari pemerintah supaya tetap berjalan setelah anak disabilitas ini tamat belajar.

“Apakah itu berupa fasilitas, mentor atau lainnya, yang jelas keterampilan anak-anak bisa mendapat dukungan, apalagi setelah mereka tamat. Supaya itu menjadi bekal mereka nanti,” harap Faisal.

Kepala Bidang Perencanaan SDM dan Sosbud Bappeda Parepare, Dede Alamsyah Wakkang mengatakan, Musrenbang Anak Disabilitas adalah terobosan Pemkot Parepare melalui Bappeda yang baru tahun ini dilakukan.

“Baru pertama kali diadakan di Parepare, di Sulawesi Selatan bahkan nasional baru sedikit daerah yang melaksanakan. Tujuannya, agar anak disabilitas memperoleh hak yang sama menyampaikan aspirasi dalam perencanaan pembangunan,” papar Dede.

Selain Musrenbang Anak Disabilitas, tahun ini Bappeda juga menggelar Musrenbang Anak binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Itu agar anak binaan LPKA juga bisa beraspirasi dalam perencanaan pembangunan.

“Semua rekomendasi dalam Musrenbang Anak Kecamatan, Musrenbang Anak Disabilitas, Musrenbang Anak LPKA mengerucut dalam Musrenbang anak tingkat kota. Musrenbang Anak tingkat kota rencananya dihadiri langsung Bapak Wali Kota Parepare,” tandas Dede.

Musrenbang Anak Disabilitas berlangsung efektif. Perwakilan dari 71 siswa di SLBN menyalurkan aspirasi dengan cara dan bahasa mereka, dipandu oleh guru SLBN, Fasilitator Forum Anak Parepare, dan Tim Bappeda Parepare. (*)