Program Pengadaan Bibit Murbei di Wajo Dipertanyakan

WAJO, suaraya.news — Salah satu program untuk mengembalikan kejayaan sutra Kabupaten Wajo yakni dengan adanya bantuan dari Pemerintah Provinsi Sulsel berupa pengadaan bibit murbei untuk dikembangkan di Wajo. Namun bibit murbei itu dipertanyakan elemen masyarakat di Wajo.

Badan Pemantau dan Kebijakan Publik (BPKP) Kabupaten Wajo mempertanyakan pengadaan bibit murbei terkait kualitas dan mutu bibit serta dari segi klasifikasi bibit.

Ketua BPKP Wajo, Andi Sumitro mengatakan, apa betul pengadaan bibit itu sudah sesuai dengan petunjuk teknis karena menggunakan anggaran negara tidak sedikit.

“Ini perlu diperjelas dan diawasi bersama karena anggaran ini bukan sedikit dan menggunakan uang negara,” imbuh Andi Sumi, sapaannya.

Andi, warga Wajo juga mempertanyakan bibit murbei yang ditanam melalui KPH Walanae yang sudah didistribusikan ke Desa Bottopenno Kecamatan Majauleng dan Desa Pasaka Kecamatan Sabbangparu, Wajo.

“Kayaknya bibit itu sudah agak layu dan agak sudah tua. Ada kelihatan akarnya sudah keluar dari polybag. Karena itu kami pertanyakan apakah itu betul bibit yang berkualitas dan bermutu sesuai petunjuk atau juknisnya. Agar nantinya hasil dari bibit itu benang sutra berkualitas,” harap Andi.

Sementara Junan, Kepala UPTD Bone, Soppeng dan Wajo Dinas Kehutanan Provinsi Sulsel yang dihubungi terpisah menjelaskan, bahwa pengadaan bibit murbei sebanyak 1 juta bibit, untuk tahap pertama ada 300.000 bibit yang dibagikan ke Desa Bonto Penno Kecamatan Majauleng, 220.000 bibit, dan di Desa Pasaka 80.000 bibit. “Itu sudah ditanam dan tumbuh,” katanya.

Dinas Kehutanan Sulsel pada tahun ini memprogramkan Sejuta Murbei, dan 300 ribu sekarang tersedia dan siap tanam. Kemudian 700 ribu akan menyusul di anggaran perubahan. Dan Dinas Perindustrian Sulsel memprogramkan rumah produksi berupa pengadaan mesin pemintal yang siap pada Januari 2021. Total anggaran yang disiapkan senilai Rp1,5 miliar. (*)

Reporter: Andi Erwin, Wajo